Kalau boleh saya ibaratkan hidup itu seperti proses lompat jauh, maka saat ini saya sedang berada di titik yang sangat krusial, yang menentukan seberapa jauh saya akan melompat, di mana saya akan mendarat dan bagaimana posisi mendarat saya. Ya, saya sedang berada di titik tolak itu, satu kata, skripsi. Bagi saya skripsi bukanlah tujuan utama, namun dia menjadi salah satu yang menentukan seberapa jauh pencapaian kita nantinya. Karena di dalam skripsi lah kita mengalami puncak dari segala proses belajar kita di semester sebelumnya.
Skripsi itu tidak seperti cinta, karena skripsi itu memang cinta; tidak bisa dipaksakan dan harus diungkapkan. Namun lebih itu, skripsi letaknya ada di sini, di hati. Dan saya benar-benar mengalami perjalanan hati saat menjalani proses ini.
Seperti hari ini, siapa sangka seorang pasien skizofrenia membuatkan saya sebuah puisi hanya karena saya mau diajaknya ngobrol, sharing. Ngobrol? Sharing? Mungkin di antara teman-teman ada yang menyangsikan hal ini. Saya bukan psikiater atau psikolog, saya hanya seorang mahasiswa semester delapan yang baru menyelesaikan proposal skripsi saya. Namun percayalah bahwa kita ini sama, Kawan. Satu-satunya hal yang membedakan kita adalah komposisi neurotransmitter di otak kita. Kita hanya sedikit lebih beruntung saja.
Saya yakin akan banyak kisah yang tercipta mulai hari ini. Dan salah satunya adalah hari ini, puisi dari Mbak Ginti.
[belum diberi judul]
Apa arti berteman
Bila kita tidak pernah bertemu
Ikan hiu ada di pulau seribu
Aku ingin memberi ilmu orang
Namun apa daya aku miskin ilmu
Mataku terang memandang bulan
Hati lapangku membuka rezeki
Temen dusta sekali kata
Seumur hidup menjadi merana
Karena satu kedustaan
Yang selalu terjatuh
Mikirin temen menambah beban
Kerukunan menjadi retak
Buat Mbak Fafa
RS GRHASIA SLEMAN
Sincerely yours, 24 Februari 2011
From Ginti Minarsih
P.S : puisi ini hanya saya salin tanpa perubahan sedikitpun. Mbak Ginti memang pandai berbahasa Inggris. Percakapan kami hari ini adalah :
Mbak Ginti : Mbak, do you remember me? I’m glad to see you again. Are you an angel ?
Saya : I’m glad too, Mbak. No, I’m just an ordinary girl, Mbak.
Mbak Ginti : Mbak Fafa, kita jadi friend yuk?
Saya : (mendatangi mbak ginti dan memberikan kelingking saya untuk kemudian ditautkan dengan kelingking Mbak Ginti)
Terimakasih untuk hari ini..
Comments
Post a Comment