Awalnya saya juga heran dengan mata kuliah yang satu ini. Konseling farmasi? Apaan sih? Aneh banget. Setahu saya, konseling itu ya dengan psikolog, psikiater. Topiknya seputar kepribadian, masalah pribadi, pokoknya jauh-jauh deh dari dunia farmasi. Mana ada konseling farmasi? Mana bisa apoteker melakukan konseling? Mau minta bantuin nulis rumus-rumus kimia mungkin ya. Atau konsultasi bagaimana cara cepat menghafal obat :p.
Ternyata eh ternyata, sekarang, hampir setiap hari saya berakrab-akrab dengan yang namanya konseling farmasi. Ternyata dunia farmasi tidak melulu soal rumus kimia, sintesis obat, atau penelitian menemukan obat kanker. Bahwa ternyata ada yang jauh lebih penting dari itu. Bagi teman-teman yang belum tahu, dulu kegiatan kefarmasian memang berorientasi kepada produk. Penelitian-penelitian dilakukan untuk mengembangkan produk obat yang diinginkan, menciptakan obat baru yang belum ada. Sudah. Sampai situ saja. Menjadi pertanyaan besar adalah, lalu produk-produk canggih nan keren itu siapa sih yang akan menggunakan? Yap, konsumen tentu saja jawabnya. Ambil contoh, bentuk obat yang bernama suppositoria. Setelah dibuat, lalu bagaimana cara pemakaiannya? Apakah setiap konsumen sudah mengerti bagaimana cara penggunaannya yang benar?
Yuhuuu. Di sinilah peran konseling, kawans. Dalam perkembangannya sekarang kegiatan farmasi tidak hanya berfokus pada produk namun yang lebih diutamakan adalah keamanan dan rasionalitas penggunaan obat oleh pasien. Patient oriented. Ya, farmasi modern adalah yang berorientasi kepada pasien. Apakah pasien benar-benar mengerti mengenai pengobatan yang akan diterimanya.
Lalu mungkin masih banyak yang bertanya apa ya bedanya konseling dengan informasi obat biasa? Mungkin yang lebih sering terdengar adalah informasi obat entah itu melalui kegiatan penyuluhan, buletin atau artikel-artikel kesehatan lainnya. Dalam konseling, seorang apoteker harus mempunyai solusi atas masalah yang dibawa pasien. Dan memang itulah yang membedakan konseling dari informasi obat lainnya. Selalu ada masalah yang harus dipecahkan.
Tunggu dulu, jangan dikira mudah ya dalam melakukan konseling farmasi. Mereka yang melihat proses konseling farmasi mungkin bisa saja berujar: halah, gampang tinggal ngomong ke pasien aja apa susahnya. Toh, IPK saya 3,99. Saya menguasai semua ilmu tentang obat. You’ll never know till you’ve tried. Menurut saya, memberikan konseling adalah seperti final examination. Semua ilmu terpadu di situ. Seorang apoteker tidak akan berhasil melakukan konseling jika dia tidak menguasai farmakoterapi dan farmakologi dengan baik. Farmakokinetika? Apalagi. Interaksi obat, efek samping, dan masih banyak cabang ilmu farmasi lainnya. Cukupkah? Ternyata tidak.
Empati adalah kunci. Kemampuan berkomunikasi menjadi hal mutlak dalam konseling. Betapa pun luar biasa ilmu yang Anda kuasai, kalau Anda tidak bisa berkomunikasi sama saja bohong! It’s a big nonsense. Bagaimana pasien akan nyaman mengungkapkan masalahnya kalau apoteker berkomunikasi saja tidak bisa. Setuju?
Mungkin masih banyak yang bertanya-tanya, emang apa manfaat konseling farmasi? Kalau hanya penggunaan obat sih, baca leaflet di dalam kemasan obat juga bisa. Hey, we’ll give more and more than that! Kalau di leaflet yang dijelaskan hanya akibat, kami akan memberitahu sebabnya. Kalau di leaflet yang diungkapkan adalah efek sampingnya, kami menyampaikan pengatasannya. Dan kalau karena leaflet Anda justru bingung dibuatnya, kami yang akan memberi pencerahan.
Intinya mulai dari posting ini, saya akan membagi pengalaman mengenai konseling farmasi. Mengapa saya lakukan? Karena saya prihatin. Pertama saya prihatin karena belum banyak masyarakat yang tahu bahwa mereka sebenarnya berhak mendapatkan informasi obat yang benar. Kedua saya prihatin karena konseling ini masih dianggap hal remeh temeh bagi teman-teman yang berkiprah di dunia farmasi sendiri. Seakan belum menyadari salah satu bintang kebanggaannya adalah sebagai seorang care giver. Mungkin ke depannya akan susah, tapi yakin saja bahwa pasti bisa! Kalau Pandji Pragiwaksono mempunyai seri penulisan “Susah Tapi Bisa Part …” untuk membumikan Stand Up Comedy, mungkin saya akan menggunakan “Kalau Bisa Care, Mengapa Tidak? Jilid…” untuk meng-oksigen-kan Konseling Farmasi. Suka-suka awak lah ya, hahaha. Yeah, silakan hidup tanpa oksigen.
bisa dimulai dengan cara online kok, salam farmasi
ReplyDelete