Akhir-akhir ini saya sering merenung bahwa hal-hal
yang terjadi pada kehidupan kita setiap hari itu bukannya tanpa alasan. Saya
termasuk orang yang tidak percaya pada kebetulan. Kebetulan itu juga
pilih-pilih. Alloh saja akan menurunkan hujan di tempat yang sudah siap
ditanami. Dan nantinya, percaya atau tidak kita akan berterimakasih kepada
setiap “pretelan” adegan hidup kita. Ada yang manis, tapi banyak juga yang
pahit. Berterimakasih untuk hal yang pahit? Iya, karena pahit itu obat, dan
obat itu menyembuhkan.
Orang tua yang terkadang menolak permintaan “sak dheg sak nyet” (istilah dalam
Bahasa Jawa yang berarti sekali minta harus langsung dipenuhi). Setelah dewasa,
saya baru menyadari betapa jumawanya kit akalau saja saat itu orang tua selalu
meloloskn permintaan kita. Kebiasaan itu bisa saja terbawa sampai sekarang dan
turut andil dalam menciptkan sifat “bossy”
nantinya. Apa-apa harus selalu nomor satu. One more lesson, kita diajarkan
bagaimana cara mendapatkan hal yang kita inginkan lewat perjuangan, proses. Mungkin
saja permintaan kita dipenuhi setalah beberapa kali kita merayu dan dalam
proses itu kita belajar arti perrjuangan mendapatkan sesuatu. The art of making
a request. Now, I thank them.
Teman yang suka pilih kasih dan mem-bully. Mungkin ada
yang bertanya apalah ini pengalaman pribadi? Ya, saya berani nulis karena saya
benar-benar mengalaminya. Sewaktu TK, saya sering kena palak teman saya yang
sama-sama perempuan. Waktu SD, saya sering “dibicarakan”karena teman-teman saya
menganggap prestasi-prestasi saya di SD adalah hasil nepotisme mengingat Kepala
Sekolah SD itu adalah nenek saya sendiri. Saat tahun pertama SMP, beberapa
orang underestimate ke saya karena saya siswa yang berasal dari SD non-favorit.
Bahkan ketika diabsen asal SD, nama sekolah saya tidak disebut. Namun saya
tidak lantas sakit hati. Walaupun saat itu saya masih “polos”, namum saya tahu
apa yang sedang terjadi dengan diri saya. Dan saya hanya tinggal membuktikan
bahwa mereka tidak benar. Ketika banar-benar terbukti, saya berterimakasih
kepada mereka yang sudah mengajarkan kepada saya arti pertemanan yang tulus. Mereka
yang mengajarkan saya makna “don’t judge
a book by its cover”, dan mereka yang memotivasi saya untuk bekerja kerasa
dan menemukan siapa diri saya. Bukan untuk membuktikan kepada siapapun,
melainkan untuk merealisasikan apa yang menjadi tujuan saya, dengan bantuakn
mereka tentunya. Life is good :D
Dosen pembimbing PKPA yang super galak. Kalau bercerita
yang satu ini justru menjadi nostalgia yang terindah bagi saya. Bagaimana tidak?
Selama hampir tiga bulan saya selalu kena marah dosen praktisi pembimbing PKPA.
Mengapa? Karena pekerjaan/tugas saya tidak sempurna. Selalu ada saja yang salah
atau masih kurang. Selalu saja terlihat bodoh di depan mereka. Tidak dipungkiri,
awalnya saya dan teman-teman sempat frustasi menghadapi “ujina” maha berat ini.
hahahahaha. Ok, yang ini lebay. Namun sekarang saya sangat berterimakasih
kepada mereka. Apa jadinya kalau dulu pekerjaan saya yang tidak sempurna
dibiarkan begitu saja? Kami adalah apoteker, berurusan dengan obat yang diminum
pasien dan taruhannya adalah nyawa. Manusia bukan kucing yang nyawanya ada
tujuh. Maka dari itu toleransi kesalahan yang berhubungan dengan nyawa manusia
adalah 0%. This is the reason why they did it. Keren ya? Iya, saya baru sadar
kalau mereka keren. Idealisme masih ada ternyata. Thank you.
Sekarang ini saya seperti de javu. Mengalami hal-hal
yang sudah saya ceritakan sebelumnya di atas. Namun dengan kompleksitas yang
lebih tinggi tentu saja. Adil sih, dulu saat SD masalahnya seperti itu ya masa
sekarang diberi ujian yang sama seperti anak SD (-__-)* . Kalau dulu saat PKPA
saya ditantang untuk memunculkan idealisme saya, sekarang ini saya ditantang
untuk mempertahankannya. Ketika orang-orang yang sekarang ini menghina
idealisme saya, mencoba menghentikan langkah maju saya dengan berbagai cara,
and even underestimating my ability, saya merasa ditantang untuk sekali lagi
menemukan diri saya. Someday, I’ll thank them. Berterimakasih atas segala
cibiran mereka, agar kelak saya tidak melakukan hal yang sama karena saya malu.
Malu mencibir orang lain, memangnya kita ini siapa? Berterimakasih kepada
mereka yang hobi menuduh tanpa bukti agar kelak saya juga tidak melakukannya. Hal
yang memalukan ketika tuduhan itu tidak terbukti dan justru pihak lain bisa
membuktikan bahwa tuduhan itu salah. Skakmat!
Someday, I’ll thank them.
Comments
Post a Comment