Terkadang Tuhan sengaja mengirimkan beberapa orang yang bisa membuat kita naik kelas menjadi orang yang jauh lebih tangguh dan tahan banting dari sebelumnya. Tidak peduli bagaimana caranya, apapun bentuknya, dan siapa orangnya. Satu yang pasti, setiap kejadian akan selalu ada hikmah yang bisa diambil. Pasti.
Dulu saya mengira bahwa tidak adil adalah ketika kita sudah berusaha semaksimal yang kita bisa tapi usaha kita tidak dihargai sedikitpun oleh orang lain. Jangankan dihargai, yang didapat seringkali justru cacian, hinaan, dan koloninya. Belum lagi cara melempar caciannya. Kadang ada yang halus terselubung, tidak jarang juga yang nyata di depan mata. Tidak terbayang usaha kita yang mati-matian Cuma dismbut dingin tidak bersahabat atau antusias termaki oleh orang lain. Iya, dulu saya sakit hati sekali dengan hal-hal semacam ini.
Hmm, mungkin karena pengaruh umur juga kali ya, hehehe. Saat ini, seberapa kejamnya orang menghina saya, memaki saya, mencaci, tidak menghargai usaha mati-matian saya, mereka cuma dapat bonus senyum manis dari saya ^^. Atau memang kotak sensitivitas yang sudah habis di masa muda? Heuheuheu. Tidak ada lagi yang namanya sakit hati.
Karena saya belajar dari paku. Paku yang tajam tidak akan tertancap kalau tidak mendapat pukulan yang keras dan bertubi-tubi. Tidak akan berarti kalau paku cuma dielus-elus.
Cara terbaik menghadapi orang yang menghina kita adalah hanya dengan kita tinggal membuktikan kalau kita tidak pantas mendapatkannya. Sudah, itu saja cukup.

Comments
Post a Comment