Ada saat di mana kita hanya butuh jalan terus, maju ke depan, terus, terus dan tanpa peduli apa yang akan kita temui dengan mengambil risiko terus maju. Mungkin ada pilihan mundur, dengan mundur mungkin kita bisa mengulang apa yang sudah kita lewatkan dan mengambil sisa-sisa yang berserakan untuk disatukan kembali. Mungkin dengan mundur kita bisa tahu kesalahan kita telah melewatkan beberapa kesempatan penting. Mungkin dengan mundur kita bisa tahu yang mana kawan sebenarnya dan yang mana kawan jadi-jadian. Mungkin dengan mundur kita bisa tahu segalanya, bisa melihat lebih dekat, lebih jelas.
Tapi keputusan memilih untuk berjalan terus, tidak dipilih semua orang. Jalan terus, walau dengan bekal seadanya. Jalan terus, dan siap dibasuh dengan cercaan, hinaan. Jalan terus, demi yang sudah ada di ujung sana. Jalan terus, demi memeluk hal-hal menakjubkan tak terduga di sudut sana. Jalan terus, demi waktu yang tidak pernah manja minta istirahat. Jala terus, demi bumi yang tidak pernah protes membagi rata siang dan malam.
Dan sering, kita harus berputar dulu menjadi sesuatu yang bukan kita demi menjadi diri kita lagi. I noted that.
Tapi keputusan memilih untuk berjalan terus, tidak dipilih semua orang. Jalan terus, walau dengan bekal seadanya. Jalan terus, dan siap dibasuh dengan cercaan, hinaan. Jalan terus, demi yang sudah ada di ujung sana. Jalan terus, demi memeluk hal-hal menakjubkan tak terduga di sudut sana. Jalan terus, demi waktu yang tidak pernah manja minta istirahat. Jala terus, demi bumi yang tidak pernah protes membagi rata siang dan malam.
Dan sering, kita harus berputar dulu menjadi sesuatu yang bukan kita demi menjadi diri kita lagi. I noted that.
Past the point of no return - no backward glances: the games we've played till now are at an end
Past all thought of "if" or "when" - no use resisting: abandon thought, and let the dream descend... [The Phantom of The Opera)

jalan terus demi tujuan yang tak ada habisnya.
ReplyDelete