Kalau di postingan sebelumnya cuma icip-icip, anggap saja postingan kedua ini sebagai appetizer yah. Kemarin saya (baru) menceritakan kulit arinya aja. Oh iya, nanti dulu. Tujuan saya menulis seri ini adalah untuk memberi gambaran kepada saudara sebangsa setanah air yang nantinya akan menunaikan tugas mulia PKPA di rumah sakit sehingga teman-teman yang membaca mendapat gambaran harus bagaimana dan ngapain aja kalau PKPA di rumah sakit. Jadi, jangan harap saya menceritakan dengan detail tentang semua yang terjadi di sini. Off the record. Harus ngurus ethical clearance dulu bo’ :p
Oke, review bentar aja. Ngomong-ngomong tentang kuliah matrikulasi mungkin tidak di semua rumah sakit mengadakan sesi ini ya. That’s just fine, different pond different fish. Kuliah matrikulasi berlangsung selama 8 hari. Materinya apa aja? Pada dasarnya materi ini sudah didapatkan ketika kuliah S1 maupun profesi kok. Mau tau apa aja? Mau tauuuuu aja. Terapi ARV, DHF, thyphoid, alkes, terapi sitostatika, berbagai jenis farmakoterapi kanker, penggunaan antibiotik, terapi cairan, dan masih banyak lagi. Namun banyak juga lho yang belum sempat kita sentuh lebih dekat lagi ketika kuliah seperti terapi emergency, terapi pre- dan post- operasi, menghitung dosis obat kemoterapi, dan berbagai kuliah yang berhubungan dengan manajemen rumah sakit. Hmmm, banyak ya? Banget.
Lalu, apa yang harus dilakukan di pekan-pekan awal PKPA di RSDS? Belajar, belajar, dan belajar. Tapi jangan lupa, main, main, main, hahaha. Biar imbang bo’, study hard, play hard! Mengapa saya bilang begitu? Masa-masa kuliah matrikulasi akan menjadi masa yang paling dirindukan ketika kita sudah masuk sesi ketiga nanti yaitu studi kasus di lapangan. Kuliah matrikulasi memang padat, dalam sehari (jam 8-15.00) bisa ada 6-7 materi yang disampaikan. Tapi setelah itu? Nganggur, ongkang-ongkang di kos. Nah, kalau sudah masuk bangsal? Mau ongkang-ongkang aja kepikiran pasien :p. In other words, ketika sudah masuk bangsal nggak akan ada lagi waktu kosong di sore dan malam hari seperti saat kuliah matrikulasi. Buat tidur aja rasanya sayang banget waktunya. Dan jangan lupa, selalu rawat dengan penuh kasih sayang materi-materi matrikulasi. Itu akan sangat berharga nantinya, ketika masuk ke bangsal. Karena senjata andalan pembimbing ketika kita menanyakan sesuatu adalah: lihat materi matrikulasi saya, sudah ada semua di sana. Serius. Jangan main-main sama pembimbing.
Soal pembimbing, mahasiswa PKPA itu ditakdirkan untuk nrimo apapun, siapapun, dan bagaimanapun pembimbingnya. Fyi, karakter pembimbing itu macam-macam. Kadang dapat pembimbing yang lemah lembut, yang agak “nakal”, ada juga pembimbing yang cantik, imut, lemah lembut, tapi kata-kata begitu menusuk, hehehe, ada juga pembimbing yang ditakdirkan tidak bisa mengeluarkan suara dengan volume kurang dari 5, selalu 7 ke atas jadi terkesan seperti marah-marah padahal lembut hatinya :p dan masih banyak lagi. Ada tips dan trik sendiri tentunya untuk menghadapi pembimbing2 menakjubkan ini. Tapi di sini bukan tempatnya berbagi tips soal itu ya. Off the record. Hehehe.
Nah, kuliah matrikulasinya udah. Hmm, mau masuk ke bangsal ya sekarang? Eits, tunggu dulu deh. Sebelum masuk ke bangsal saya mau cerita dikit dulu. RSDS ini merupakan RS rujukan utama di wilayah Indonesia bagian timur. Jadi, mau cari kasus apapun ada di sini. Dari pilek sampai kanker. Pasien rawat jalan sudah antri di depan apotek mulai jam 5 pagi, serius. Sehari bisa 3000 resep yang masuk ke apotek rawat jalan. Belum lagi pasien rawat inap. Whatsoever then? Sebisa mungkin kita sebagai tenaga kesehatan dituntut untuk mempunyai empati yang tinggi. Pesannya adalah: buat kamu-kamu yang selama ini merasa “jijik’an”, “si tangan tak berkuman” yang sedikit ah ih ah ih, tahan dulu. Tidak perlu menunjukkan ekspresi dahsyatmu itu di rumah sakit, apalagi di depan pasien. Bayangkan saja kamu-kamu menjadi mereka. Itu modal utama kalau kita mau PKPA di rumah sakit. Mereka yang di sana sudah cukup menderita dengan penyakitnya, jadi kita nggak perlu menambah beban penderitaan kita dengan sikap sok jijik kita karena itu bisa menyinggung pasien. Tenaga kesehatannya aja ah ih ah ih, bagaimana pasiennya mau sembuh?
Mungkin teorinya gampang sih, tapi praktiknya Masya Alloh, syusyah brooo. Tidak hanya itu sebenarnya, etika yang lain masih banyak, seperti tidak membicarakan penyakit pasien ketika kita di bangsal dan tidak memberi pandangan/perhatian yang berlebihan ketika terjadi sesuatu kepada pasien. Itu baru dengan pasien. Emangnya rumah sakit punyanya apoteker aja? Kita juga harus menjaga etika kita ketika berhadapan dengan perawat, dokter, dan karyawan rumah sakit lainnya. Saling menghormati hak dan kewajiban masing-masing. Ini juga teorinya gampang, tapi kenyataannya, fyuuhhh.
Yeah, appetizernya udah habis. Next post akan ada main course tentang kegiatan di masing-masing bagian Insya Alloh. Tentunya dengan segala bawang, cabai, garam, dan asam jawanya. Besok kenalan yuk dengan kegiatan di bangsal Obsgyn dan Anak dulu. Bedah, Interna, dan yang lain menyusul.
Terbuka untuk segala jenis pertanyaan kecuali yang masuk kriteria eksklusi off the record ^^
Noto roso, among roso, mijil tresno, agawe karyo.
mkasih gambaranny..
ReplyDeleted tunggu postingan selanjutny y mbak.. ^_^
dilanjutin lg dong mbak, posting pengalaman pkpa nya..
ReplyDelete