Skip to main content

Yang di sini, yang di sana, di mana-mana

Yeah.. Akhirnya bisa lebih sering berbagi lagi. Kali ini biarkan saya mendongeng.

Jadi ini adalah hari kedua saya menjalankan tugas negara a.k.a PKPA Apotek. Nah,PKPA kan ya mesti di apotek toh? Namanya aja apoteker. Tunggu dulu, sersan! Nama emang boleg apoteker, tapi skill nggak cuma bisanya di apotek dong. So first of all, kalau di minat farmasi klinik dan komunitas seperti saya, PKPA ada di tiga instansi yaitu apotek, puskesmas,dan rumah sakit. Masing-masing ada enak tidaknya sih. Itu pasti. Demikian juga dengan teman teman yang ambil minat Industri.

Nah dua hari ini saya mendapat giliran di bagian peracikan. Apa saja yang harus dikerjakan? Mulai dari ngecek resep, membuat instruksi peracikan, menimbang, meracik, mengemas sampai dengan memberi etiket. Serunya melebihi dari sekedar praktikum komdis. Dan di titik ini saya benar-benar semakin merasakan bedanya teori di dalam kelas dengan praktek langsung di lapangan. Betapa ilmu kita yang berpuluh puluh sks itu tidak akan berguna kalau kita tidak terjun langsung memegang resep, menimbang obat, dan menghadapi pasien yang 1001 karakter.

Di kampus kita boleh membanggakan GPA, atau apalah itu. Tapi di apotek modal GPA aja nggak cukup. Saya nggak bilang kalau GPA nggak penting lho ya. Tapi di sini kita juga butuh terbiasa, terampil, cekatan,berpikir cepat, bekerja cerdas, dan tentu saja the one and only: KERJA KERAS. Yap, memang harus dengan CAPS LOCK saudara saudara.

Selain itu, dibutuhkan hati yang lembut dan telinga setebal kulit badak, bos! Hahaha. Bukannya apa-apa, hanya saja, ini terutama untuk mahasiswa PKPA, kita datang ke apotek orang itu sama saa kita bertamu ke rumah orang lain dengan banyak anggota keluarga yang bermacam macam sifatnya. Jadi ya, berlakulah dengan sopan dan santun ketika bertamu ke rumah orang. Se-nyolot apapun mereka, tetap harua sabar. Maksud mereka sebenarnya bukan untuk nyolot melainkan kita saja yang belum benar-benar mengenal mereka.

Nah, tips aja nih bagi teman-teman yang nanti akan PKPA apotek: persiapkan mental sebaik mungkin agar tidak grogi. Mengapa? Karena saat grogi teman-teman ditanya chloramphenicol indikasinya apa udah nggak bisa jawab dan ini akan membuat mental nge-drop loh.
Kedua, nggak usah berusaha memperlihatkan ilmu-ilmu yang dipelajari di bangku kulih dulu atau kalau bahasa gampangnya sok-sokan. Hehehe. Emang sih dulu kita diajari ini itu bla bla bla. Ingat, di dunia kuliah kita bicara hal yang paling ideal sedangkan di sini kita bicara realita. Bahwa yang kita hadapi saat ini adalah pasien asli. Manusia beneran. Bukan probandus. Bukan subjek uji klinik. Dan orang-orang yang ada di apotek pastinya lebih tahu bagaimana aturan main di apotek itu. Begitu.

Mmm, kayaknya ini dulu deh yang bisa di rekap dari dua hari ini. Sebenarnya masih banyak sih tapi buat lain kali aja biar surpriseee!

- Yang di sini; yang di sana; di mana-mana. -

Comments

Popular posts from this blog

Gemas Level: Dexamethason Dipanggil Dewa

Maafkan judulnya yang terlalu buruk. Namun level gemas saya memang sudah melebihi galaunya abege yang di-teman-pinjam-catatan-tapi-terus-terusan-zone-in sama gebetannya. Hampir setiap hari ada yang bertanya ke saya: obat buat radang, obat buat sakit gigi, obat yang katanya bisa bikin ini itu, bentuknya kecil warnanya hijau itu apa ya, Mbak?  Tidak dipungkiri bahwa saat ini kecepatan penyebaran informasi terjadi dengan frekuensi begitu tinggi terutama di era social media . Kita sangat mudah dalam mendapatkan segala informasi yang kita butuhkan termasuk tentang obat. Hanya diperlukan waktu beberapa menit saja untuk kita memasukkan keyword di kolom google search lalu memperoleh hasil yang kita inginkan. Namun yang tidak banyak kita sadari adalah validitas sumber yang dibaca. Hal ini akan menjadi sangat penting ketika informasi yang dicari adalah seputar kesehatan dan obat. Hasilnya? Banyak sekali penggunasalahan ( iya, sengaja, bukan penyalahgunaan ) obat karena  kita rajin ...

Kopiku

Manis. Tidak juga menjadi manis. Pahit. Tapi hidup. Kadang pahit yang mengobati. Seringkali pahit yang justru menyembuhkan. Apa gunanya manis kalau hanya maya. Maya dimana mana. Kapan saja. Dengan siapa saja dan cara apa saja. Mulai halusinasi. Terserang ilusi. Kontaminasi delusi. Seolah-olah menjadi orang yang benar. Seolah-olah menjadi yang terpilih. Bahagia dalam maya. Menangis dalam manis. Cuma bisa meringis ketika teriris. Maya maya maya. Semu semu semu. Manis manis manis. Tanpa permisi pergi. Tanpa undangan datang. Pahit. Menyembuhkan. Pahit. Membenarkan. 

Ulasan Kelas Reksadana Akber Salatiga

Posting ini dibuat karena permintaan seorang teman yang ingin sekali ikut kelas Akber Salatiga tanggal 22 Desember 2013 kemarin tapi tidak bisa datang karena suatu hal. Dalam coret-coretan kali ini bahasa yang digunakan suka-suka dan teramat awam. Namun penulis berusaha menyampaikan informasi sesuai kelas yang dibawakan Yulius Kurniawan, guru kelas Akber Salatiga. You've been warned. Baiklah, Mas Yuli membuka kelas dengan perkenalan. Ternyata dari 27 orang yang datang, 90% belum mempunyai reksadana. Untuk yang belum tahu, reksadana itu salah satu instrumen investasi, di samping saham, obligasi, emas, properti dll. Kalau tabungan itu produk perbankan, reksadana ini adalah produknya sekuritas meskipun kita bisa juga beli reksadana di bank-bank tertentu, tapi sekali lagi bukan produk perbankan ya. Bank-bank itiu hany bertindak sebagai selling agent yang bisa bantu kita kalo mau beli produk reksadana tertentu. Sebelum masuk kepada pembahasan reksadana, Mas Yuli mene...