Skip to main content

Myoma = Sipirili!

Sambungan dari postingan sebelumnya: Benda Itu Bernama… MYOMA. Apa sih myoma itu? Myoma –disebut juga fibromioma, fibroid, atau leoimioma- adalah tumor jinak yang tumbuh dari otot polos misalnya otot rahim. Orang orang biasa menyebut kutil yang tumbuh di dalam rahim. Rahim karena sesuatu hal maka pada bagian tertentu tumbuh terus-menerus dan membesar sehingga membentuk benjolan yang kenyal dan padat. Benjolan ini letaknya bisa bermacam-macam pada rahim dan ukurannya juga bermacam-macam.

Myoma ini sifatnya bisa dengan gejala (simptomatis) atau tanpa gejala (asimptomatis). Pada myoma yang simptomatis biasanya pasien mengalami keluhan seperti sakit yang luar biasa saat menstruasi, buang air kecil terganggu, dan kelainan sistem reproduksi. Kebetulan salah satu kasus yang saya tahu adalah asimptomatis. Si E (baca postingan sebelumnya dulu deh, hehehe) tidak merasakan gangguan apa-apa. Hal yang membuat si E memeriksakan diri ke dokter kandungan adalah terlambat datang bulan. Setelah di USG, bukan janin yang ada di rahimnya melainkan myoma yang berdiameter 9 cm. Yup, besar memang. Hal ini karena si E baru memberanikan diri ke dokter kandungan setelah satu tahun mulai curiga dan merasakan ada benjolan di perut bagian kanan bawah.  Perlu diketahui, semakin dini myoma terdeteksi, semakin mudah penangannya.

Coba lihat gambar yang saya ambil dari blog dr. Suryo Bawono, Sp.OG ini

Gambar diatas adalah myoma yang berukuran cukup besar, dari seorang wanita yang berusia diatas 40 tahun dan belum dikaruniai anak. Sayang sudah besar baru datang berobat, kalau kita berandai-andai, tentu akan masih banyak waktu tersisa bila datang berobat saat usia masih muda dan ukuran miomnya masih kecil.

Ada satu lagi...

Hampir sama kasusnya dengan gambar sebelumnya, too big and too late.

Sekarang, lebih takut mana? Segera memeriksakan diri atau memelihara benda tidak berguna sebesar itu di dalam perut? Come on, girls. Care yourself for the sake of others who care about you. [bersambung]

Comments

Popular posts from this blog

Gemas Level: Dexamethason Dipanggil Dewa

Maafkan judulnya yang terlalu buruk. Namun level gemas saya memang sudah melebihi galaunya abege yang di-teman-pinjam-catatan-tapi-terus-terusan-zone-in sama gebetannya. Hampir setiap hari ada yang bertanya ke saya: obat buat radang, obat buat sakit gigi, obat yang katanya bisa bikin ini itu, bentuknya kecil warnanya hijau itu apa ya, Mbak?  Tidak dipungkiri bahwa saat ini kecepatan penyebaran informasi terjadi dengan frekuensi begitu tinggi terutama di era social media . Kita sangat mudah dalam mendapatkan segala informasi yang kita butuhkan termasuk tentang obat. Hanya diperlukan waktu beberapa menit saja untuk kita memasukkan keyword di kolom google search lalu memperoleh hasil yang kita inginkan. Namun yang tidak banyak kita sadari adalah validitas sumber yang dibaca. Hal ini akan menjadi sangat penting ketika informasi yang dicari adalah seputar kesehatan dan obat. Hasilnya? Banyak sekali penggunasalahan ( iya, sengaja, bukan penyalahgunaan ) obat karena  kita rajin ...

Konseling Farmasi : Emang Ada?

Awalnya saya juga heran dengan mata kuliah yang satu ini. Konseling farmasi? Apaan sih? Aneh banget. Setahu saya, konseling itu ya dengan psikolog, psikiater. Topiknya seputar kepribadian, masalah pribadi, pokoknya jauh-jauh deh dari dunia farmasi. Mana ada konseling farmasi? Mana bisa apoteker melakukan konseling? Mau minta bantuin nulis rumus-rumus kimia mungkin ya. Atau konsultasi bagaimana cara cepat menghafal obat :p. Ternyata eh ternyata, sekarang, hampir setiap hari saya berakrab-akrab dengan yang namanya konseling farmasi. Ternyata dunia farmasi tidak melulu soal rumus kimia, sintesis obat, atau penelitian menemukan obat kanker. Bahwa ternyata ada yang jauh lebih penting dari itu. Bagi teman-teman yang belum tahu, dulu kegiatan kefarmasian memang berorientasi kepada produk. Penelitian-penelitian dilakukan untuk mengembangkan produk obat yang diinginkan, menciptakan obat baru yang belum ada. Sudah. Sampai situ saja. Menjadi pertanyaan besar adalah, lalu produk-produk canggih...

Sebuah PKPA, Sebuah Cerita

Sebenarnya postingan ini lebih bertujuan untuk memuaskan keinginan beberapa fans (baca: adik2 angkatan) yang penasaran bagaimana jalannya PKPA di Rumah Sakit. Sebagai kakak tingkat yang baik hati, budiwati, serta imut2, saya persembahkan waktu di antara membuat laporan dan menyelesaikan kasus ini untuk kalian. Dan karena saya PKPA di RSUD dr. Soetomo maka yang saya sampaikan adalah yang saya tahu dan beberapa pengamalan saya selama PKPA di rumah sakit termaktub di atas. Here it is! PKPA? Apaan sih? Oke, pertanyaan yang sangat serius sepertinya :P. PKPA adalah singkatan dari Praktek Kerja Profesi Apoteker, salah satu syarat memperoleh gelar apoteker dan di instansi saya (Fakultas Farmasi UGM) PKPA untuk mahasiswa minat Rumah Sakit dilaksanakan di tiga intansi pemerintah/swasta yaitu apotek, puskesmas, dan rumah sakit. PKPA Rumah Sakit, apa saja yang harus dipersiapkan? Otak, tenaga, waktu, biaya, dan the one in only: hati :) Di sana ngapain aja? Masuk ke poin utama ...