Beberapa hari yang lalu saya mengantar sahabat saya –tidak mau disebut namanya- ke dokter kandungan. Awalnya sahabat saya takut kalau2 dia hamil karena mentruasinya sudah terlambat satu hari yang tidak biasanya seperti itu. Menstruasinya selalu maju seminggu lebih awal, oleh karena itu dia takut kalau dia hamil sedangkan dia tidak sedang merencanakan untuk hamil (meskipun ada suami, tetep aja rempong bo’ katanya -.-“)
Selidik punya selidik, ternyata selain haid yang terlambat di perut bagian kanan bawah sahabat saya terdapat benjolan yang agak besar kalau diraba. Benar saja, sang dokter kandungan mengatakan kalau sahabat saya tersebut tidak hamil namun terdapat MYOMA di kandungannya. Myoma? Langsung saja saya berpikir ke arah tumor. Aduh, tapi jinak apa ganas ya? Uhhmm, tapi kayaknya jinak deh. Sengaja saya tidak bertanya lebih detail kepada sang dokter demi menjaga psikologi sahabat saya ini. Bedakan, ketika saya menjelaskan “itu cuma kayak daging tumbuh aja kok” dengan “berarti ada kayak tumor jinak gitu”. Bayangan tumor pada setiap orang, hampir sebagian mengarah ke kanker. Padahal belum tentu. Oke, saya memang bukan ahli kanker, at least saya pernah belajar terminologi medis tentang itu lah (oh, my gratitude to Patologi Klinik, Patologi Umum, dan Histopatologi class).
Dan hanya selang sehari, seorang teman juga memberitahu saya kalau dia baru saja periksa ke dokter kandungan dan ditemukan myoma juga. Oh, God, selalu saja ada cara-Mu mengingatkan kami. Bedanya, sahabat saya (sebut saja E) sudah menikah dan mempunyai anak sedangkan teman saya (sebut saja L) belum menikah dan belum mempunyai anak. Usia mereka pun terpaut jauh. Saat periksa, myoma si E ditemukan berdiameter 9 cm sedangkan si L berdiameter 3 cm (how lucky she is, ya karena dia waspada sejak awal dan segera memeriksakan diri).
Ketika saya tanya, keduanya diberikan obat, semacam antioksidan. Hanya saja pada kasus si E, jika selama dua bulan ukuran myoma nya tidak berkurang harus segera dilakukan pembedahan untuk mengambil “daging tumbuh” itu. Beruntungnya, dokter mengatakan ukuran myoma akan mengecil dengan sendirinya jika sudah menopause dan sahabat saya ini memang memasuki masa2 menopause. Alhamdulillah. Bersama kesulitan pasti selalu datang kemudahan. Berbeda lagi dengan si L, diameter myoma nya masih 3 cm dan bisa dilakukan upaya untuk memperkecil dengan obat. Tapi ternyata dokter menyarankan untuk operasi setelah menikah nanti. Ya sudahlah, he knows better than us. Manut saja.
Ehhmm.. intinya di sini saya mau share aja dengan teman2 khususnya para wanita pembela bangsa. Tsaaahhh. Bahwa memeriksakan diri sejak awal itu lebih baik. Semakin awal terdeteksi, semakin mudah pengatasannya. Oh iya, untuk info saja, si E pernah keguguran sebanyak dua kali dan itulah mungkin mengapa ada myoma di rahimnya karena proses pembersihan kurang bersih sedangkan si L (se usia dengan saya) merasakan sakit yang sangat ketika menstruasi. Tapi jangan khawatir juga kalau teman2 juga merasakan sakit yang teramat sangat, lebih baik segera periksakan. Sayangi diri teman-teman sendiri demi orang yang kalian sayangi.
Terakhir, dukungan keluarga dan orang terdekat sangat penting bagi mereka. Dengan cara apa? Besarkan hati mereka, cari tau informasi lebih banyak, dan selalu ingatkan mereka untuk mematuhi pengobatan dan segala sesuatu yang disarankan dokter. Jadilah suporter fanatik mereka. Kalau Anda suaminya, perlakukan istri Anda sebaik-baiknya, semanis-manisnya. Kalau Anda anaknya, relakan apapun demi kesembuhan dan kesehatannya. Kalau Anda kekasihnya, jangan pernah meragukan dia bisa hamil atau tidak. Karena banyak kasus ibu hamil yang juga mempunyai myoma ketika mendekati saat melahirkan justru myoma nya mengecil, hilang dan bayi serta ibunya selamat dan sehat. Dan jangan pernah meragukan kemampuan seorang manusia karena Tuhan sekali pun tidak pernah. [bersambung]

Comments
Post a Comment