Skip to main content

Antiklimaks

Yak, ini tanggal 20 Agustus 2011. Kemarin tanggal 19. Dua hari yang lalu tanggal 18. Bagi sebagian teman2 mungkin 18 Agustus 2011 bisa jadi salah satu hari yang paling spesial selama hidupnya. Ya, karena kucir dipindahkan dari kiri ke kanan lencana kebanggaan disematkan di dada. WISUDA.
Se-istimewa itukah wisuda bagi saya? Hmmm, ternyata tidak. For me, graduation is just like another common ceremonial rutinity. Datang, pakai kebaya, pakai toga, pakai samir universitas dan cumlaude (kalau yang cumlaude), pakai high heels, duduk di dalam ruangan mewah nan megah, mendengarkan sambutan, menunggu giliran dipanggil maju ke depan, duduk lagi menunggu 1000-an wisudawan lainnya dipanggil, selesai, sudah. Terus terang, bagian yang worth it saat wisuda kemarin hanya dua bagi saya yaitu: ketika jalan masuk menuju kursi (karena ketika itu orang tua saya melihat saya dengan tatapan yang entah belum pernah saya melihatnya seperti itu) dan yang kedua adalah sambutan dari wakil mahasiswa, seorang lulusan dari Fakultas Kedokteran yang orasinya dapat membuat saya merinding berkali-kali. Tanpa maksud apa-apa, bahkan dibandingkan sambutan yang lain, aura mahasiswa ini mengalahkan satu sambuta yang lainnya. That’s why we’re called MAHA-SISWA, actually.
Lalu mengapa saya mengikuti wisuda? Seperti harus menjawab “lebih cantik siapa Asmirandah atau Dude Herlino”. Karena tentu saja semua orang sudah tahu jawabannya: Ya, karena ada kedua orang tua saya. Tidak perlu dijelaskan lebih jauh sepertinya. Anak mana yang tidak mau melihat orang tuanya berbangga atas pencapaian buah hatinya? Sudah itu saja.
Yang saya lakukan setelah wisuda? Lepas toga, ambil modul, kuliah lagi. So, mungkin itu alasan bagi saya bahwa wisuda= (almost) nothing. Sekian.



that's it: WISUDA



Comments

  1. CONGRATULATION Fa......hassle must go on.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Gemas Level: Dexamethason Dipanggil Dewa

Maafkan judulnya yang terlalu buruk. Namun level gemas saya memang sudah melebihi galaunya abege yang di-teman-pinjam-catatan-tapi-terus-terusan-zone-in sama gebetannya. Hampir setiap hari ada yang bertanya ke saya: obat buat radang, obat buat sakit gigi, obat yang katanya bisa bikin ini itu, bentuknya kecil warnanya hijau itu apa ya, Mbak?  Tidak dipungkiri bahwa saat ini kecepatan penyebaran informasi terjadi dengan frekuensi begitu tinggi terutama di era social media . Kita sangat mudah dalam mendapatkan segala informasi yang kita butuhkan termasuk tentang obat. Hanya diperlukan waktu beberapa menit saja untuk kita memasukkan keyword di kolom google search lalu memperoleh hasil yang kita inginkan. Namun yang tidak banyak kita sadari adalah validitas sumber yang dibaca. Hal ini akan menjadi sangat penting ketika informasi yang dicari adalah seputar kesehatan dan obat. Hasilnya? Banyak sekali penggunasalahan ( iya, sengaja, bukan penyalahgunaan ) obat karena  kita rajin ...

Dalam Dekapan Ukhuwah - Back Cover

karena beda antara kau dan aku sering jadi sengketa karena kehormatan diri sering kita tinggikan di atas kebenaran karena satu kesalahanmu padaku seolah menghapus sejuta kebaikan yang lalu wasiat Sang Nabi rasanya berat sekali : "Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara" mungkin lebih baik kita berpisah sementara, sejenak saja menjadi kepompong dan menyendiri berdiri malam-malam, bersujud dalam-dalam bertafakur bersama, iman yang menerangi hati hingga tiba waktunya menjadi kupu-kupu yang terbang menari melantun kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia Lalu dengan rindu kita kembali ke dekapan ukhuwah  mengambil cinta dari langit dan menebarkannya ke bumi dengan persaudaraan suci, sebening prasangka, selembut nurani sehangat semangat, senikmat berbagi, dan sekokoh janji - Dalam Dekapan Ukhuwah, Salim A Fillah - 

Afternoon Report

Terkadang Tuhan sengaja mengirimkan beberapa orang yang bisa membuat kita naik kelas menjadi orang yang jauh lebih tangguh dan tahan banting dari sebelumnya. Tidak peduli bagaimana caranya, apapun bentuknya, dan siapa orangnya. Satu yang pasti, setiap kejadian akan selalu ada hikmah yang bisa diambil. Pasti. Dulu saya mengira bahwa tidak adil adalah ketika kita sudah berusaha semaksimal yang kita bisa tapi usaha kita tidak dihargai sedikitpun oleh orang lain. Jangankan dihargai, yang didapat seringkali justru cacian, hinaan, dan koloninya. Belum lagi cara melempar caciannya. Kadang ada yang halus terselubung, tidak jarang juga yang nyata di depan mata. Tidak terbayang usaha kita yang mati-matian Cuma dismbut dingin tidak bersahabat atau antusias termaki oleh orang lain. Iya, dulu saya sakit hati sekali dengan hal-hal semacam ini. Hmm, mungkin karena pengaruh umur juga kali ya, hehehe. Saat ini, seberapa kejamnya orang menghina saya, memaki saya, mencaci, tidak menghargai u...