Skip to main content

Surat Buat Sahabat (lagi)

Kalau saja aku mengenalmu sejak lama, mungkin aku bisa lebih tega daripada sekarang kawan. Masalahnya aku belum terlalu mengenal siapa dirimu. Kita hanya sebatas bertegur basa basi jika bertemu, tidak lebih dari canda tawa. Tapi aku rasa aku belum terlalu terlambat untuk mengatakan hal ini, karena kamu adalah temanku.

Aku tidak tahu mengapa ada orang seperti kamu dan seperti dia. Ya, dia yang kamu anggap pelindung namun justru melukaimu. Dia yang kamu bilang selalu bisa memberikan apa yang tidak kamu terima dari orang lain tapi justru menusukmu dari belakang. Dia yang selalu kamu hormati dan kamu hargai namun dia juga yang menghancurkan kepercayaan, respect-mu begitu saja, seenak hatinya pula. Aku tidak habis pikir dan benar-benar tidak mengerti mengapa ada orang seperti dia. Dia yang selalu memintamu memberitahukan apa yang yang sedang kamu lakukan, di mana kamu sekarang, dengan siapa kamu makan, siapa yang hari ini telepon atau sms-an sama kamu. Dan yang paling naif adalah ketika kamu bercerita bahwa kamu juga harus mengirimkan foto kamu setiap harinya full body hanya untuk tahu hari ini kamu memakai baju apa, hanya untuk memastikan bahwa lengan atau betis kamu tidak terlihat orang lain.


Tapi lebih dari itu semua, aku benar-benar heran mengapa kamu betah diperlakukan seperti itu? Apa yang membuatmu bertahan kawan? Hey, kamu sendiri yang bercerita bahwa dia pernah mengucapkan kata-kata kasar kepadamu, padahal saat itu dia berstatus sebagai pacar kamu. Pacar macam apa itu?


Pada titik ini aku tidak mau lagi membahas alasan mengapa kamu bisa bertahan selama itu. Menjadi hal yang sia-sia sepertinya kalau aku masih saja membahasnya. Poinnya di sini adalah tentang membuka mata, bukan yang lain. Ya, kamu tidak harus melakukan apa-apa kok. Just open your eyes by your deepest heart. Perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, vice versae.


Hal yang sangat merugikan ketika kamu masih saja berpijak di titik yang sama sementara semua orang sudah mengambil langkah kedua, ketiganya. Bahkan dia sudah melangkah jauh, jauuuuh di depan kamu. 




Kalau saja dengan menyesali kejadian itu sampai sekarang bisa mengembalikan keadaan menjadi lebih baik, semua orang akan melakukannya. Tapi apa? Mereka nggak mau melakukan itu semua. It’s like a wild goose chase, girl! All your efforts will be in vain.


All you have to do is to face it. Just face it! Don’t ever try to forget it. Never! And by the time you realize all your mistake, you’ll be able to spread your smile again. Trust me, it works!

OK, Girl! Good luck..

Comments

  1. kq sepertinya pernah denger cerita ini..sangat familiar..bau2nya based on true story ni..tp true storynya siapa ya??
    *amnesia

    ReplyDelete
  2. true story nya seorang teman yang diharapkan move on oleh temannya.. karena masih ada langit biru di sana dan bumi masih dipijak :)

    ReplyDelete
  3. hmm...masih penasaran kenapa cerita ini baru di publish sekarang??bukankah kisah ini sudah terjadi beberapa bulan lalu??
    *menurut feeling saya kejadiannya uda agak lama

    ReplyDelete
  4. to mbak dinar hp: maaf, itu sepertinya menjadi hak penulis sepenuhnya.. inspirasi dan mood bisa datang kapan saja tanpa ada yang menyuruh keluar :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Gemas Level: Dexamethason Dipanggil Dewa

Maafkan judulnya yang terlalu buruk. Namun level gemas saya memang sudah melebihi galaunya abege yang di-teman-pinjam-catatan-tapi-terus-terusan-zone-in sama gebetannya. Hampir setiap hari ada yang bertanya ke saya: obat buat radang, obat buat sakit gigi, obat yang katanya bisa bikin ini itu, bentuknya kecil warnanya hijau itu apa ya, Mbak?  Tidak dipungkiri bahwa saat ini kecepatan penyebaran informasi terjadi dengan frekuensi begitu tinggi terutama di era social media . Kita sangat mudah dalam mendapatkan segala informasi yang kita butuhkan termasuk tentang obat. Hanya diperlukan waktu beberapa menit saja untuk kita memasukkan keyword di kolom google search lalu memperoleh hasil yang kita inginkan. Namun yang tidak banyak kita sadari adalah validitas sumber yang dibaca. Hal ini akan menjadi sangat penting ketika informasi yang dicari adalah seputar kesehatan dan obat. Hasilnya? Banyak sekali penggunasalahan ( iya, sengaja, bukan penyalahgunaan ) obat karena  kita rajin ...

Sebuah PKPA, Sebuah Cerita

Sebenarnya postingan ini lebih bertujuan untuk memuaskan keinginan beberapa fans (baca: adik2 angkatan) yang penasaran bagaimana jalannya PKPA di Rumah Sakit. Sebagai kakak tingkat yang baik hati, budiwati, serta imut2, saya persembahkan waktu di antara membuat laporan dan menyelesaikan kasus ini untuk kalian. Dan karena saya PKPA di RSUD dr. Soetomo maka yang saya sampaikan adalah yang saya tahu dan beberapa pengamalan saya selama PKPA di rumah sakit termaktub di atas. Here it is! PKPA? Apaan sih? Oke, pertanyaan yang sangat serius sepertinya :P. PKPA adalah singkatan dari Praktek Kerja Profesi Apoteker, salah satu syarat memperoleh gelar apoteker dan di instansi saya (Fakultas Farmasi UGM) PKPA untuk mahasiswa minat Rumah Sakit dilaksanakan di tiga intansi pemerintah/swasta yaitu apotek, puskesmas, dan rumah sakit. PKPA Rumah Sakit, apa saja yang harus dipersiapkan? Otak, tenaga, waktu, biaya, dan the one in only: hati :) Di sana ngapain aja? Masuk ke poin utama ...

Dalam Dekapan Ukhuwah - Back Cover

karena beda antara kau dan aku sering jadi sengketa karena kehormatan diri sering kita tinggikan di atas kebenaran karena satu kesalahanmu padaku seolah menghapus sejuta kebaikan yang lalu wasiat Sang Nabi rasanya berat sekali : "Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara" mungkin lebih baik kita berpisah sementara, sejenak saja menjadi kepompong dan menyendiri berdiri malam-malam, bersujud dalam-dalam bertafakur bersama, iman yang menerangi hati hingga tiba waktunya menjadi kupu-kupu yang terbang menari melantun kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia Lalu dengan rindu kita kembali ke dekapan ukhuwah  mengambil cinta dari langit dan menebarkannya ke bumi dengan persaudaraan suci, sebening prasangka, selembut nurani sehangat semangat, senikmat berbagi, dan sekokoh janji - Dalam Dekapan Ukhuwah, Salim A Fillah -