Ada kalanya kita merasa menjadi orang paling sibuk sedunia. Merasa semua hal masuk dalam otak kita dan itu semua menuntut untuk diselesaikan dalam waktu yang berdekatan a.k.a manusia berkawan deadline. Tanpa kita sadari bahwa ternyata di sisi lain banyak hal yang belum kita kerjakan atau justru kita tinggalkan karena kita menganggapnya sebagai second priority. Padahal justru hal-hal sederhana itulah yang menjadi alasan mengapa kita masih bisa bertahan sampai detik ini.
Mengapa judulnya Amanah? Ya, amanah. Ingatan saya melompat jauh ke sepuluh tahun yang lalu (mungkin), ketika sebelum masuk TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) saya harus menghafalkan dulu “Tepuk Sifat Wajib Bagi Rasul” : Sidiq, Amanah, Fathonah, Tabligh. Amanah berarti dapat dipercaya. Saat itu pengertian saya tentang amanah terbatas pada bahwa saya tidak boleh membocorkan keberadaan teman saya saat bermain petak umpet, tidak boleh men-diskon ketika ustadzah saya memberi tugas untuk mencari sepuluh bacaan idzhar dan ikhfa’ sebelum tadarus, tidak boleh berbohong kepada ibu tentang apapun yang saya alami. Sudah, itu saja.
Umur bertambah, orang berpikir, dan hidup berubah. Pemikiran kita tentang arti amanah itu pun tidak terbatas pada definisi masa kecil. Kita jadi tahu bahwa ternyata kita mempunyai banyak amanah; keluarga, sahabat, teman, waktu, tempat, lembaga dan masih banyak lagi tentunya. Pertanyaannya, sudahkah kita memegang dan menjalankan amanah-amanah itu secara proporsional?
Saat kita tenggelam dalam aktivitas perkuliahan atau pekerjaan bagi yang sudah bekerja, masih ingatkah kita kalau ternyata kita juga di-amanah-i seorang atau beberapa teman dan sahabat yang ternyata sedang sangat mengharapkan kita, mengandalkan kita untuk sekedar memberikan saran, membesarkan hati ketika mereka mempunyai masalah? Sudahkah kita menepati janji awal tahun bahwa kita akan selalu ada untuk mereka? Bagaimana jika ternyata kita “amnesia” akan janji-janji dalam hati itu? Amanah memang asalnya dari Alloh dan kita wajib menjaga amanah itu karena kita dinilai mampu untuk menjalankannya. Namun, siapkah kita jika ternyata Alloh tidak lagi mempercayakan amanah itu pada kita dan Mengambil Alih amanah tersebut? Relakah kita?
-Rasa kehilangan hanya akan ada
jika kau pernah merasa memilkinya- (Letto)
Kita memang diberi amanah dalam banyak hal. Kita diamanahi almamater kita untuk selalu meningkatkan kualitas diri baik dalam bidang akademis maupun non-akademis, diberi amanah lembaga untuk mewujudkan tujuan utama lembaga masing-masing, diberi amanah dosen untuk mengerjakan tugas, proyek sebaik-baiknya, mendapat amanah untuk selalu menjaga hubungan baik dengan sesama namun seringkali lupa bahwa kita juga mendapat amanah yang sangat besar yaitu keluarga. Ya, Ibu, Ayah, Adik atau Kakak kita. Sudahkah mampukah kita menjaga amanah ini?
Jangan buru-buru menjawab iya jika kita hanya beralasan bahwa kita rajin belajar, menuntut ilmu itu juga demi mereka. Ada hal yang lebih penting daripada itu semua yang saat ini saya rasakan. Satu hal yaitu kebersamaan. Saat ini saya merasakan keberadaan saya di tengah mereka lebih dari apapun. Kadang saya mengeluh juga jika masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di rantau tapi ternyata ada panggilan dari istana (rumah-red) untuk segera pulang karena akan ada acara keluarga. Saya berpikir “emang kalo ga ada aku acaranya ga jadi? Ga juga kan?”. Dan ternyata saya sadar bukan itu intinya. Intinya dalah saya diuji apakah saya masih bisa menjaga amanah saya yaitu amanah untuk berbakti kepada orang tua dan amanah untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya atau tidak. Saya tidak ingin saya dianggap tidak reliable untuk menjalankan amanah-amanah itu. Saya ingin menjaga dan menjalankan amanah-amanah tersebut secara proporsional, tidak lebih tidak kurang.
Sebenarnya coretan ini lebih bertujuan untuk refleksi diri (saya khususnya) karena akhir-akhir ini saya menyadari ada semacam chaos di otak saya, seperti ada traffic jam, benang ruwet kalau orang Jawa Tengah bilang sehingga kurang bisa menjaga amanah-amanah itu.
-So many choices to be made, so little time to decide- (Letto)
When we are older, life is getting harder but never say never. Kalau memang kita merasa kita belum bisa disebut orang yang amanah, mari kawan kita mulai dari sekarang. Tidak ada salahnya merenung, berkontemplasi lalu benar-benar melakukan perubahan. Dan yang paling penting adalah untuk selalu saling mengingatkan dalam perjalanan mencapai sifat amanah yang sesungguhnya.
“ Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati
Supaya mentaati kesabaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran”
(Q.S Al-Ashr 2-3)
Mengapa judulnya Amanah? Ya, amanah. Ingatan saya melompat jauh ke sepuluh tahun yang lalu (mungkin), ketika sebelum masuk TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) saya harus menghafalkan dulu “Tepuk Sifat Wajib Bagi Rasul” : Sidiq, Amanah, Fathonah, Tabligh. Amanah berarti dapat dipercaya. Saat itu pengertian saya tentang amanah terbatas pada bahwa saya tidak boleh membocorkan keberadaan teman saya saat bermain petak umpet, tidak boleh men-diskon ketika ustadzah saya memberi tugas untuk mencari sepuluh bacaan idzhar dan ikhfa’ sebelum tadarus, tidak boleh berbohong kepada ibu tentang apapun yang saya alami. Sudah, itu saja.
Umur bertambah, orang berpikir, dan hidup berubah. Pemikiran kita tentang arti amanah itu pun tidak terbatas pada definisi masa kecil. Kita jadi tahu bahwa ternyata kita mempunyai banyak amanah; keluarga, sahabat, teman, waktu, tempat, lembaga dan masih banyak lagi tentunya. Pertanyaannya, sudahkah kita memegang dan menjalankan amanah-amanah itu secara proporsional?
Saat kita tenggelam dalam aktivitas perkuliahan atau pekerjaan bagi yang sudah bekerja, masih ingatkah kita kalau ternyata kita juga di-amanah-i seorang atau beberapa teman dan sahabat yang ternyata sedang sangat mengharapkan kita, mengandalkan kita untuk sekedar memberikan saran, membesarkan hati ketika mereka mempunyai masalah? Sudahkah kita menepati janji awal tahun bahwa kita akan selalu ada untuk mereka? Bagaimana jika ternyata kita “amnesia” akan janji-janji dalam hati itu? Amanah memang asalnya dari Alloh dan kita wajib menjaga amanah itu karena kita dinilai mampu untuk menjalankannya. Namun, siapkah kita jika ternyata Alloh tidak lagi mempercayakan amanah itu pada kita dan Mengambil Alih amanah tersebut? Relakah kita?
-Rasa kehilangan hanya akan ada
jika kau pernah merasa memilkinya- (Letto)
Kita memang diberi amanah dalam banyak hal. Kita diamanahi almamater kita untuk selalu meningkatkan kualitas diri baik dalam bidang akademis maupun non-akademis, diberi amanah lembaga untuk mewujudkan tujuan utama lembaga masing-masing, diberi amanah dosen untuk mengerjakan tugas, proyek sebaik-baiknya, mendapat amanah untuk selalu menjaga hubungan baik dengan sesama namun seringkali lupa bahwa kita juga mendapat amanah yang sangat besar yaitu keluarga. Ya, Ibu, Ayah, Adik atau Kakak kita. Sudahkah mampukah kita menjaga amanah ini?
Jangan buru-buru menjawab iya jika kita hanya beralasan bahwa kita rajin belajar, menuntut ilmu itu juga demi mereka. Ada hal yang lebih penting daripada itu semua yang saat ini saya rasakan. Satu hal yaitu kebersamaan. Saat ini saya merasakan keberadaan saya di tengah mereka lebih dari apapun. Kadang saya mengeluh juga jika masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di rantau tapi ternyata ada panggilan dari istana (rumah-red) untuk segera pulang karena akan ada acara keluarga. Saya berpikir “emang kalo ga ada aku acaranya ga jadi? Ga juga kan?”. Dan ternyata saya sadar bukan itu intinya. Intinya dalah saya diuji apakah saya masih bisa menjaga amanah saya yaitu amanah untuk berbakti kepada orang tua dan amanah untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya atau tidak. Saya tidak ingin saya dianggap tidak reliable untuk menjalankan amanah-amanah itu. Saya ingin menjaga dan menjalankan amanah-amanah tersebut secara proporsional, tidak lebih tidak kurang.
Sebenarnya coretan ini lebih bertujuan untuk refleksi diri (saya khususnya) karena akhir-akhir ini saya menyadari ada semacam chaos di otak saya, seperti ada traffic jam, benang ruwet kalau orang Jawa Tengah bilang sehingga kurang bisa menjaga amanah-amanah itu.
-So many choices to be made, so little time to decide- (Letto)
When we are older, life is getting harder but never say never. Kalau memang kita merasa kita belum bisa disebut orang yang amanah, mari kawan kita mulai dari sekarang. Tidak ada salahnya merenung, berkontemplasi lalu benar-benar melakukan perubahan. Dan yang paling penting adalah untuk selalu saling mengingatkan dalam perjalanan mencapai sifat amanah yang sesungguhnya.
“ Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati
Supaya mentaati kesabaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran”
(Q.S Al-Ashr 2-3)
Comments
Post a Comment