Skip to main content

Thank God, It’s Friday

Bahagia tak terkira akhir pekan ini benar-benar saya habiskan di Salatiga, kota indah selamanya, tanpa harus mengorbankan jam kuliah.. Wow, what a win-win solution! (hahaha). Tapi saya merasa aneh saja ketika tiba-tiba saya merindukan kuliah manajemen yang sudah “ditiadakan” beberapa minggu yang lalu. Padahal untuk menghadiri kelas ini dibutuhkan suntikan intravena semangat lima kali dosis dari dosis lazim seperti mata kuliah lainnya. Bayangkan saja kuliah Jumat sore pukul 15.00 till drop (lege artis). Lege artis (dibaca:tergantung dosen) karena mata kuliah in diampu oleh tiga dosen berbeda dengan tiga metode berbeda pula. Kadang satu sks, kadang dua sks, tapi ada suatu ketika kami pernah kuliah sampai empat sks pada H-3 UAS. What a day! (karena Jumat sore bagi saya adalah rutinitas mendebarkan mengejar bus Jogja-Solo agar tidak terlalu larut sampai di Kartasura)


di sinilah saya harus mengejar bus arah Semarang

Saat ini, entah kenapa saya begitu merindukan mata kuliah itu. Mungkin benar kata orang: Kamu akan merasakan betapa berartinya sesuatu setelah kamu tidak lagi bisa merasakan kehadirannya. Lebih tepatnya saya begitu merindukan filosofi manajemen itu sendiri. Betapa indah ilmu ini ketika MahaGuru kami, Prof. Hardika (karena memang sepertinya semua materi kuliah lebih masuk ke otak dan jiwa ketika di reformulasi oleh beliau-kepada ybs dilarang geer) menyampaikan prinsip manajemen yaitu : planning, organizing, actuating, dan controlling. Namun kali ini saya tidak ingin menyampaikan apa yang sudah diajarkan Prof. Hardika kepada kami. Sebelum tidur saya selalu merenung tentang sesuatu dan kali ini giliran manajemen yang menjadi bahan perenungan saya.

Bahwa ternyata saya belum bisa menjadi manajer yang baik bagi diri saya sendiri.

Tahap yang paling menyenangkan bagi saya adalah planning. Saya bisa menuliskan apa saja yang saya ingin capai dalam satu, dua, lima, bahkan sepuluh tahun yang akan datang. Semua mimpi dan keinginan saya, apapun itu, tulis! Kalau kata Bambang Pamungkas, “Hanya seorang pecundang yang tidak berani menaruh mimpi besar dalam hidupnya”. Semua orang berhak bermimpi, semua orang bisa bermimpi,dan tidak ada kasta untuk membatasi mimpi seseorang. Namun tidak hanya bermimpi. Mimpi itu tidak akan ada gunanya kalau kita tidak berusaha untuk meraihnya. Dalam tahap planning menurut saya seseorang juga harus mempunyai langkah untuk mengkonkretkan mimpi-mimpinya yang masih abstrak tersebut. Sampai sini, beres..

Organizing, actuating, dan controlling adalah ujung tombak dari sebuah manajemen, termasuk manajemen diri (ini menurut saya lho; anak kemaren sore yang mencoba berfilosofi). Organizing berarti mampu mengatur, mengelola, menyeimbangkan antar kebutuhan, keinginan, dan kewajiban. Bahwa dalam hal ini kita harus mampu memimpin diri kita sendiri dan bertanggungjawab atas apa yang terjadi pada diri kita, bukan orang lain (sudah belum ya?). Tua itu sudah pasti, tapi menjadi dewasa adalah sebuah pilihan (kata iklan rokok).

Lanjut ke actuating. Hmmm, memberikan inspirasi dan motivasi bagi diri sendiri dan/atau orang lain untuk menyelesaikan segala masalah yang ada dengan cara-cara yang sederhana tapi solutif. Untuk diri sendiri dulu aja kali yee, karena akan menjadi klise ketika berusaha memahami dan memberikan motivasi bagi orang lain namun diri sendiri masih amburadul. Bukan hal yang mudah memotivasi diri sendiri untuk selalu bangun tiap kali terjatuh. Butuh waktu yang tidak singkat, butuh tenaga dan pikiran yang tidak sedikit untuk melakukan itu semua. Hal yang selama ini saya yakini adalah tetap bergerak meskipun sedikit, tetap berpikir meskipun sulit, dan ketika itu semua telah terlewati kita baru akan tahu arti pentingnya proses-proses tadi. Pada tahap ini saya adalah orang yang masih sangat amatir. Perlu belajar dari orang-orang hebat di sekeliling saya yang di kepala mereka dipenuhi masalah mulai dari pribadi, keluarga, urusan kuliah, sampai amanah di lembaga namun mereka tetap bisa tersenyum bahkan berpikir dengan jernih. Dan sekali lagi, tidak ada batas untuk yang namanya kesabaran.

Bicara tentang pengendalian (controlling) semestinya segala sesuatu dapat dipastikan berjalan sesuai rencana. Saya termasuk orang yang selalu merencanakan setiap hal yang akan saya lakukan (kecuali menulis). Dan seperti orang normal pada umumnya,tentunya saya ingin rencana saya itu berjalan dengan baik sesuai skenario (tentunya dengan mengantisipasi hal-hal yang mungkin terjadi sebelumnya). Namun apakah itu semua kita yang berkuasa? Bukankah ada Dia Yang Maha Mengetahui Segala Sesuatu? Bukankah di dunia ini kita hanya memegang pensil sedangkan penghapus dan spidol markernya tetap dipegang Allah Yang Maha Kuasa? Kalau begitu, haruskah kita kecewa ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan? Pantaskah kita untuk kecewa? Semuanya saya kira adalah pertanyaan retoris. Namun banyak dari kita, termasuk saya, merasa begitu kecewa saat hal yang sudah kita rencanakan dengan baik, matang, menjadi berantakan begitu saja tanpa kita bisa berbuat apa-apa. Ya memang begitu jalannya saya pikir. Kalau di dunia ini perbandingan sukses:gagal = 100:0 buat apa ada ilmu statistik yang selalu memperhitungkan peluang dari setiap kejadian?

Saya menulis hal ini dalam rangka actuating myself. Ya, berusaha memotivasi diri saya sendiri lalu saya sampaikan kepada teman-teman, bukan untuk curhat, bukan untuk menambah waktu membaca tulisan saya yang nggak penting ini, bukan untuk apa-apa dan untuk siapa-siapa karena seperti kata Bambang Pamungkas (lagi) : Tidak perlu pembuktian apapun kepada siapapun. Oleh karena itu kalau malas membaca tulisan saya karena terlalu banyak atau bahasanya terlalu FTV, silakan langsung ditutup page ini (daripada harus ke dokter mata, hehehe)

Bahwa ternyata saya belum bisa menjadi manajer yang baik bagi diri saya sendiri. Tapi masih ada satu kata: USAHA. Karena dengan berhenti berusaha kita tidak lebih baik dari seorang pengecut (Pamungkas, 2009).

Salatiga, 10 Desember 2010
Di tengah deadline tugas, laporan, dan artikel.

Comments

  1. Hwa,,, mengingatkanQ kalo Q terlalu sering menunda2 pekerjaan jg, Fa. Hmmm... menjadi manager diri sendiri saja Q blum bisa bgmna untuk orla...
    Dewasa it pilihan,,hmmm...tidak pengen beranjak kayaknya Fa,, msh pengen jd anak manja yg smua selalu ada,,, hahaha

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Gemas Level: Dexamethason Dipanggil Dewa

Maafkan judulnya yang terlalu buruk. Namun level gemas saya memang sudah melebihi galaunya abege yang di-teman-pinjam-catatan-tapi-terus-terusan-zone-in sama gebetannya. Hampir setiap hari ada yang bertanya ke saya: obat buat radang, obat buat sakit gigi, obat yang katanya bisa bikin ini itu, bentuknya kecil warnanya hijau itu apa ya, Mbak?  Tidak dipungkiri bahwa saat ini kecepatan penyebaran informasi terjadi dengan frekuensi begitu tinggi terutama di era social media . Kita sangat mudah dalam mendapatkan segala informasi yang kita butuhkan termasuk tentang obat. Hanya diperlukan waktu beberapa menit saja untuk kita memasukkan keyword di kolom google search lalu memperoleh hasil yang kita inginkan. Namun yang tidak banyak kita sadari adalah validitas sumber yang dibaca. Hal ini akan menjadi sangat penting ketika informasi yang dicari adalah seputar kesehatan dan obat. Hasilnya? Banyak sekali penggunasalahan ( iya, sengaja, bukan penyalahgunaan ) obat karena  kita rajin ...

Konseling Farmasi : Emang Ada?

Awalnya saya juga heran dengan mata kuliah yang satu ini. Konseling farmasi? Apaan sih? Aneh banget. Setahu saya, konseling itu ya dengan psikolog, psikiater. Topiknya seputar kepribadian, masalah pribadi, pokoknya jauh-jauh deh dari dunia farmasi. Mana ada konseling farmasi? Mana bisa apoteker melakukan konseling? Mau minta bantuin nulis rumus-rumus kimia mungkin ya. Atau konsultasi bagaimana cara cepat menghafal obat :p. Ternyata eh ternyata, sekarang, hampir setiap hari saya berakrab-akrab dengan yang namanya konseling farmasi. Ternyata dunia farmasi tidak melulu soal rumus kimia, sintesis obat, atau penelitian menemukan obat kanker. Bahwa ternyata ada yang jauh lebih penting dari itu. Bagi teman-teman yang belum tahu, dulu kegiatan kefarmasian memang berorientasi kepada produk. Penelitian-penelitian dilakukan untuk mengembangkan produk obat yang diinginkan, menciptakan obat baru yang belum ada. Sudah. Sampai situ saja. Menjadi pertanyaan besar adalah, lalu produk-produk canggih...

Bobok Lama

Mungkin kata orang benar ya, kalau udah terlalu capek, tidak tahu harus mana dulu yang dikerjakan padahal ada banyak yang perlu dikerjakan di depan mata. Sama yang terjadi pada yang punya blog  ini ( alasan banget! ). Ini adalah rekor terlama ( kayaknya sih ) blog ini tidak ada postingan baru. Ya memang awalnya cuma untuk nulis kalau pas lagi gemregah aja sih, hehehe.  Tapi, tapi, tapi, di 2017 ini akan ada perubahan nasib pada blog ini. At least, tidak akan ongkang-ongkang setahun lamanya. Banyak sekali yang terjadi di tahun 2016 dan tidak sempat saya abadikan dalam postingan blog. Di 2017 ini niat dan inginnya sudah bulat untuk kembali mengisi blog ini dengan cerita apapun yang terjadi selama 2016 dan seterusnya.  Jadi, aku sudah bangun dari bobok yang (terlalu) lama. Nantikan! :)